Alhamdulillah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk Direstui OJK, Beraset 200 An Triliun

PT. Bank Syariah Indonesia, Bank Syariah beromset 200 triliun

57
Untuk Gambar Header tulisan Bank Syariah Indonesia direstui OJK
Source: CNBCIndonesia.com
Iklan Beras Premium Asli Dari Ranah Minang

Alhamdulillah, Proses merger tiga bank syariah yakni Bank Syariah Mandiri, Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah telah direstui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Rabu (27/1/21).

Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN serta Direktur Utama Bank Syariah Mandiri Hery Gunardi menyatakan bersyukur dan menyambut baik kabar gembira atas diterimanya persetujuan OJK terhadap rencana penggabungan ketiga bank umum syariah hari ini.

“Saya mewakili seluruh tim Project Management Office berterima kasih kepada OJK dan seluruh regulator terkait atas dukungan dan bimbingannya selama proses merger ini berlangsung, sejak awal proses ini dimulai,” kata Hery, dalam siaran persnya, Rabu (27/1/2021).

“Meski di tengah pandemi, seluruh pihak tetap bekerja, saling bahu-membahu, mendukung bersatunya tiga bank Syariah dan melahirkan Bank Syariah Indonesia. Sejatinya kita semua ini bersatu untuk Indonesia,” lanjutnya.

Sebelumnya pada Rabu (27/1/21) kemarin, perusahaan yang bernama PT Bank Syariah Indonesia (BSI) ini telah mendapatkan persetujuan dari OJK ditandai dengan keluarnya Salinan Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 4/KDK.03/2021 tentang Pemberian Izin Penggabungan PT Bank Syariah Mandiri dan PT Bank BNI Syariah ke dalam PT Bank BRI Syariah Tbk., serta Izin Perubahan Nama dengan Menggunakan Izin Usaha PT Bank BRISyariah Tbk., Menjadi Izin Usaha Atas Nama PT Bank Syariah Indonesia Tbk., sebagai Bank Hasil Penggabungan.

Pemerintah akan menjadi ultimate shareholder dari bank hasil penggabungan melalui bank-bank Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara) sebagai pemegang saham bank hasil penggabungan.

Adapun komposisi pemegang saham BSI nantinya yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 51,2%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) 25,0%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4%, DPLK BRI-Saham Syariah 2%, dan investor publik 4,4%.

Jika seluruh proses ini rampung, maka merger tiga bank syariah milik Himbara akan efektif pada Senin, 1 Februari 2021 dengan nama dan identitas baru yakni PT Bank Syariah Indonesia Tbk dan kode saham BRIS.

Setelah tanggal efektif merger, perusahaan akan fokus untuk memastikan proses integrasi layanan dan core banking dari ketiga bank berjalan baik dan minim disrupsi demi peningkatan layanan kepada masyarakat dan nasabah.

Sementara proses ini berlangsung, layanan dan operasional di tiga bank tetap berjalan seperti biasa. Hal ini disampaikan oleh Ngatari, Direktur Utama PT BRISyariah.

Dia mengatakan layanan dan operasional ketiga bank seperti biasa. Perubahan layanan dan operasional dalam proses penggabungan akan diinformasikan secara bertahap dan dana nasabah tetap aman dan dijamin sesuai dengan regulasi.

Sementara itu, setelah penggabungan selesai bank ini nantinya akan memiliki layanan yang cakupannya lebih luas dan terjadinya peningkatan kualitas.

Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo mengatakan perusahaan menjajaki kerjasama dengan mitra bisnis di luar negeri menggunakan layanan keuangan syariah, akan semakin terbuka.

Produk dan jasa yang ditawarkan Bank Syariah Indonesia dipastikan menjawab seluruh kebutuhan nasabah dan masyarakat.

Layanan ini nantinya akan mencakup UMKM, korporasi, ritel, dan investor global dan sesuai dengan standar internasional.

Bank ini nantinya akan melakukan kegiatan usaha di lebih dari 1.200 kantor cabang dan unit eksisting yang sebelumnya dimiliki BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, serta BNI Syariah.

Berdasarkan proforma keuangan per 30 Juni 2020, total aset Bank Hasil Penggabungan nantinya mencapai Rp 214,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun.

Jumlah tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan TOP 10 bank syariah terbesar di dunia dari sisi kapitalisasi pasar.

Editor: BDe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here